22 September 2016

Kota Sepeda, Riwayatmu Kini....

Roda Sepeda yang berada di Yogyatourium
Kota Sepeda, begitu sapaannya dulu.....
Pada jamannya, Jogja pernah didaulat sebagai "kota sepeda". Sekitar periode 90-an hingga awal 2000-an, ketika sepeda motor belum sebanyak sekarang. Kala itu kota Jogja dipenuhi dengan rombongan pesepeda dari berbagai penjuru. Waktunya : ketika fajar menyapa dan ketika senja menyingsing.
Rombongan selatan yang dikenal dengan golongan penglaju yang berangkat dari Bantul bakal membanjiri jalan Bantul dan jalan Parangtritis. Yang menarik dari rombongan ini terkenal dengan "gojeg-an" pipi gosong sebelah, khususon kanan. Dikarenakan terpapar sinar matahari ketika berangkat dan pulang dari kota Jogja
Rombongan ini mayoritas didominasi oleh bapak-bapak yang bekerja di Jogja bagian kota dan para siswa sekolah yang sekolah di wilayah kota.
Bisa dipastikan kedua jalan tersebut menjadi lautan sepeda dan lautan suara "kring-kring"
Bagaimana dengan Jogja sekarang ?

28 Maret 2013

kompetisi video kreatif

Sebuah kesempatan menarik dari Dagadu Djokdja untuk bercerita tentang kota Yogyakarta tercinta melalui rekaman video.
Jadi, ketimbang bikin video yang enggak-enggak mendingan bikin video yang hooh-hooh. Apalagi bisa dapat hadiah yang sungguh ciamik pula.


Keterangan lebih lengkap silakan tengok blog.dagadu.co.id

18 Januari 2013

sekaten, dari mata turun ke interpretasi

Dari SEKATI, gamelan pusaka yang dialunkan selama tujuh hari menjelang puncak prosesi. Dari SESEK ATI, nuansa hati nan sesak yang diisyaratkan ritme gamelan ini. Dari SE-KATI, benjolan bundar di tengah gong itu yang konon berbobot satu kati. Dari SUKA ATI, hati yang bersuka mengenang kelahiran Nabi. Dari SA KAPTI, saeka kapti, seia sekata bersatu hat di perayaan ini. Dari SAYAHADATAIN, kalimat syahadat yang harus diucap khalayak saat memasuki masjid setelah terlebih dulu membasuh muka hingga kaki.

04 Januari 2013

the secret of othok-othok

Siapa yang tak kenal kapal api yang memutar di ember bundar, baskom atau melaju di bak mandi. Kapal-kapalan yang terkenal dengan sebutan kapal othok-otok ini masih mudah kita dapati di arena pasar malam sekaten. Dari kapal tersebut jawablah pertanyaan di bawah ini.

Diketahui:
1. dua pipa logam sejajar.
2. pelita penghasil api, biasanya berbahan bakar minyak goreng.
3. sepasang lempengan logam yang saling direkatkan pada keempat sisinya (lihat diagram).
pipa logam diisi air terlebih dahulu sebelum kapal-kapalan dijalankan.
kapal-kapalan akan berjalan beberapa detik setelah pelita dinyalakan.
4. ketika kapal-kapalan berjalan tak aada gelembung keluar dari kedua pipa, tapi laras meriamnya akan bergerak naik turun menghasilkan bunyi thok-thok-thok-thok.

Ditanyakan:
Mengapa kapal-kapalan itu dapat berjalan?

Jawab:
kapal-kapalan itu dapat berjalan karena seluruh komponennya bekerja dengan disiplin dan taat asas, dan sesuai dengan prosedur.

Selamat mencoba..

03 Januari 2013

sekaten; sebuah perayaan di pelataran

Selamat datang di Alun-alun Jogja. (Sstt, tunggu dulu, jangan buru-buru membayangkan alun-alun ini seperti Trafalgar Square-nya London atau seumumnya piazza di Eropah kontinental sana. Alun-alun itu walaupun kelihatan seperti lapangan kota, sesungguhnya tak lebih dari halaman depan sebuah rumah semata).

Yang membuatnya sedikit istimewa dibanding lazimnya pekarangan di sini, barangkali karena rumah itu cukup tua --lebih 250 tahun umurnya. Areanya lumayan besar pula, hingga pagar luarnya (yang setebal tiga setengah meter itu) perlu dibuat sepanjang empat kilometer untuk menutup kelilingnya. Juga penghuninya yang dalam perjalanan sejarah ternyata telah menjadi cikal bakal peradaban kota ini. Rumah itu, kita tahu, ya karaton Ngayogyakarta.

Di bulan Rabiulawal begini, seperti juga pada Rabiulawal abad-abad sebelumnya, alun-alun itu akan disesaki oleh gelombang manusia, yang bergerak seperti alunan ombak --cocok dengan kata "alun-alun" itu. Ada apa? Meramaikan pasar malam Sekaten, tentu saja.

Di alun-alun, yang "cuma" pekarangan itu, dulu rakyat dapat menemui rajanya. Lantas mereka juga dapat bertemu sesamanya. (Tiba-tiba kita teringat pelataran rumah nenek di desa, tempat kawan-kawan berkumpul dan bermain bersama-sama secara merdeka).
Ah, jangan-jangan, justru pekarangan-pekarangan seperti itu adalah public space a la Jawa, ya?

17 Desember 2012

[Djadjanan Berbahaja] : klepon

Hati-hati dengan klepon. Kalau kulit luarnya terkoyak gigi, magma gula jawa di dalamnya siap meletup dan belepotan ke mana-mana. Untuk mengendalikan perilaku kudapan ini, masukkan bola klepon ke rongga mulut, katupkan mulut, baru ledakkan! Ah, nak naaan...

gambar: www.dagadu.co.id

14 Desember 2012

[Djadjanan Berbahaja] : moho

Hati-hati dengan moho. Mengucapkannya saja harus hati-hati agar tak terpeleset, apalagi mengudapnya. Kudapan yang satu ini (karena warnanya yang putih dan merah jambu) tampaknya tidak eksplosif, tapi ternyata tega juga melakukan kudeta diam-diam. Saat dikunyah, ia nekat tak mau pindah dari langit-langit rongga mulut. Saat ditelan, tega pula dia berhenti di tenggorokan. Dan, begitu terusir ke rongga perut (setelah digelontor air minum, misalnya) masih sampai hati ia bikin lambung sesak. :))