22 Desember 2008

jogjabulary [A: andhong]


Lupakan dulu ergonomi dan efisiensi. Bagi andhong, yang penting adalah citra priyayi. Rodanya saja empat. Jelas tak seefisien bendi atau sado, delman atau cidomo. Dengan garis disain yang ningrat, bodi andhong memancarkan citra aristokrat. Prioritasnya memang bukan kelincahan atau keandalan dalam balapan, tapi tampilan serupa kereta bangsawan. Soal dayaguna, itu nomer dua. Karena gaya adalah segalanya! Andhong (juga becak) tak menghasilkan karbon monoksida. Kontribusi keduanya dalam jaringan transportasi publik di Jogja kian terjepit, tapi bukan oleh bis kota (apalagi kereta subway atau monorail) yang lebih nyaman dan murah bagi warga. Melainkan akibat merajanya kendaraan pribadi, yang kian jawara dalam memproduksi polutan sekaligus kemacetan.

06 Oktober 2008

kapan kembali ke jogja?


Judul tertera di atas meminjam tagline kampanye promosi saudagar kaos kreatif PT. Aseli Dagadu Djokdja. Slogan berbentuk ajakan santun itu, didasari dari kearifan lokal dan sifat ramah warga Yogyakarta saat mengantarkan sahabat atau kerabatnya berpamitan pulang meninggalkan Yogyakarta. ‘’Kapan kembali lagi? Saya tunggu kedatangannya, lho! Hati-hati di jalan ya…’’, ujarnya sembari melambaikan tangan.
Sapaan hangat Kapan Kembali ke Jogja (KKJ), semangatnya dapat dimanfaatkan untuk menggugah adrenalin kangen seseorang. Keberadaannya mampu menggoyang kerinduan seseorang atau sekelompak orang, agar setia mengunjungi Yogyakarta. Harus diakui, Yogyakarta bagi alumnusnya (orang yang pernah tinggal di Yogyakarta), menyembulkan getaran romantisme tiada tara. Apalagi saat liburan Lebaran seperti sekarang ini, romantisme Malioboro dan pasar Beringharjo selalu mengusik sanubari para alumnus Yogyakarta untuk mengunjunginya. Bagi mereka, rasanya kurang afdol, jika mudik ke Yogyakarta tidak menyusuri Malioboro dan pasar Beringharjo.
Masalahnya kenapa Yogyakarta begitu ngangeni? Kenapa pula orang-orang yang pernah bermukim atau berkunjung ke Yogyakarta ingin kembali lagi ke sini?
Survey memaparkan, kota yang dibangun Dinasti Mataram ini, selain nyaman, secara geografis daerahnya kaya akan representasi objek wisata. Magnet pariwisata tersebut menyebarkan auranya di sudut ruang dan waktu kota Yogyakarta. Di antaranya objek wisata religiusitas keagamaan, ziarah kubur, pendidikan, konferensi, sejarah, belanja, dan kuliner tradisional. Di samping itu: wisata alam, pantai, serta wisata minat khusus, tidak pernah sepi dikunjungi pelancong dari berbagai pelosok dunia.
Tawaran mengunjungi objek wisata yang dikemas dalam sapaan KKJ ini layak dikedepankan. Hal itu menjadi penting, mengingat sektor pariwisata menjadi salah satu andalan objek pendapatan finansial pemerintah daerah. Di dalamnya juga termaktub industri kreatif yang menjadi soko guru industri pariwisata.
Senyampang mengedepankan sapaan romantis KKJ, tidak ada salahnya dilakukan evaluasi diri terkait kondisi fisik penyajian objek wisata tersebut. Bagaimana keberadaan visual objek wisata tersebut? Kumuh, kotor penuh coretan grafiti liar? Ala kadarnya? Atau bersih, unik, dan ngangeni? Bagaimana pula dengan pola pelayanan dan citra kenyamanan yang didedikasikan kepada para wisatawan?
Terkait dengan sapaan romantis KKJ, hal yang paling mendesak dilaksanakan adalah mempersiapkan, menata, dan mendidik SDM pelaku pariwisata, pejabat publik, dan masyarakat luas. Semuanya perlu dilakukan agar mereka memiliki kesadaran akan pentingnya dunia pariwisata. Langkah konkretnya dengan mengedepankan aspek handarbeni dan nguri-uri aset objek wisata yang ada sesuai jaman yang melingkupinya.
Hal lain agar sapaan romantis KKJ dapat segera diejawantahkan. Salah satunya dengan memberikan jaminan kepada wisatawan untuk mendapatkan banyak kemudahan. Antara lain, kemudahan dalam hal sirkulasi keluar-masuk objek wisata. Rasa aman, nyaman, serta dijamin dapat menemukan suasana rekreatif khas Yogyakarta.
Untuk itu, secara profesional tidak ada salahnya melakukan pemetaan ulang atas objek wisata tersebut. Rute pertama, misalnya, membujurkan objek wisata pendidikan dan konferensi, wisata kuliner sajian beragam jenis makanan khas Yogyakarta dan sekitarnya. Selanjutnya, wisata belanja di sepanjang jalan Solo, Malioboro, pasar Beringharjo, pasar Ngasem, dan pasar klithikan Kuncen.
Berikutnya boleh juga dirangkai dengan wisata heritage. Terdiri dari bangunan peninggalan arsitek Portugis dan Belanda. Di antaranya: Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Puro Pakualaman, lengkap dengan Tamansari dan Alun-alunnya. Ndalem pangeran di sekitar Jeron Beteng. Museum Sonobuyo, museum kereta kuda, dan arsitektur Masjid Agung yang unik dan indah. Selain itu juga bangunan heritage peninggalan Belanda seperti: Gedung Agung, Societet, Beteng Vredenburg, Kantor Pos, Bank Indonesia, Bank BNI, Ngejaman.
Serta wisata senirupa, seni pertunjukan tradisional dan kontempoter dilengkapi museum, galeri, ruang pamer, gedung pertunjukkan dengan dukungan kreativitas seniman yang berjibun jumlahnya.
Rute dua, wisata sejarah, dan wisata religius. Semuanya itu bisa didapatkan di daerah Kotagede dan sekitarnya. Di sana terdapat berbagai bangunan kuno dan makam leluhur peninggalan kerajaan Mataram pertama. Cenderamata perak dan kuningan. Pasar, makanan, kesenian, dan kendaraan tradisional tanpa mesin. Dapat pula ditambahkan kebun binatang Gembiraloka dengan koleksi lengkap berbagai binatang dan tumbuhan langka.
Konsepsi pemetaan visual objek wisata seperti ini menjadi sangat berharga bagi para wisatawan. Hal itu tentunya akan memudahkan para pelancong untuk mengunjungi berbagai objek wisata, sesampainya mereka turun dari kereta api, pesawat terbang, bus pariwisata, atau kendaraan pribadi.
Selain melakukan penataan rute perjalanan wisata yang nyaman. Perlu dirancang moda transportasi bermotor ataupun kendaraan tidak bermesin untuk mengangkut wisatawan mengelilingi objek wisata Yogyakarta. Menyediakan lahan parkir yang tertata rapi. Membunuh premanisme dan kriminalitas. Membasmi juru parkir nakal yang melipatgandakan bea parkir kendaraan roda dua ataupun mobil. Menata PKL sesuai dengan peruntukan trotoar dan tidak terlambat membersihkan sampah yang ditinggalkan para pelancong.
Menumbuhkan hutan dan taman kota yang asri. Menempatkan beragam bentuk street furniture di ruang publik sebagai wahana melepas lelah. Memasang patung-patung artistik sebagai representasi kota pariwisata berbasis budaya. Semuanya dapat menimbulkan kesan kota yang berbudaya, indah, bersih, nyaman, dan ngangeni.
Romantisme semacam itu sangat didambakan wisatawan. Mereka mendapatkan pengalaman dan kenangan khusus ketika melancong ke Yogyakarta. Para alumni Yogyakarta pun tanpa sungkan-sungkan menjawab sapaan romantis KKJ, ‘’Pada liburan yang akan datang, kami pasti kembali lagi ke Yogyakarta’’.

Sumbo Tinarbuko
www.sumbotinarbuko.blogspot.com/
Dosen Komunikasi Visual dan Pegiat Studi Kebudayaan FSR ISI Yogyakarta.
Artikel tersebut di atas, sebagaimana dipublikasikan di Harian Kedaulatan Rakyat, 6 Oktober 2008 tanpa mengubah judul maupun isinya. (toean roemah).

jogja memang istimewa

Jogja itu memang layak disebut Daerah Istimewa, bukan
saja urusan politik pemerintahan, tetapi justru bagi
orang yang sering keliling nusantara, pasti akan
merasa perbedaan yang kasat mata ketika memasuki kota
Jogja...

Greget kesibukan dan khususnya kreatifitas menandakan
bahwa Jogja itu memang menggeliat ekonominya... Lihat
saja papan nama toko, spanduk warung yang dirancang
dengan sangat 'modern', juga perubahan dari kota penuh
sesak sepeda ke kota motor-bebek... Wah, sungguh hidup
kota Jogja itu...

Yang bikin gemez juga ada, sisi baik pertumbuhan
ekonomi ternyata juga menggilas persawahan yang hijau
menjadi kompleks pertokoan dan perumahan, bahkan
pabrik... Jangan-jangan saat ini atau mendatang, Jogja
akan jadi pengimpor beras dan hasil pertanian...

Dahulu, sering kita lihat para perempuan Jogja
berjalan kaki dengan kebaya-nya yang membat mereka
tampil ayu, bersahaja dan tradisional...kini, hanya
tampil ketika ada 'ewuh' dirumah keluarga... Hilang
ditelan modernisasi...

Mana "sang Icon" Jogja sebagaimana proses ritual dan
budaya Bali? Bukan, bukan ingin menjadikan Jogja
"kuno" kembali, tetapi rasa rindu pada Jogja Asli yang
tempo doeloe merupakan nilai-nilai asli Jogjakarta
sering muncul ketika memasuki kota Jogja....

Siapa yang harus melestarikannya? Pertanyaannya bukan
"Kapan ke Jogja Lagi?", tetapi "Mengapa ke Jogja
lagi?", ada apa di Jogja? Adakah sesuatu yang Jogja
punya tetapi Bali tidak punya? Yang membuat orang2
Jogja ataupun Non-Jogja menjadi berlarian ke Jogja
kalau liburan/weekend...

Tabu Genderang "Jogja Asli & Asri"...hari-hari
tertentu kembalikan Blankon-Surjan Jogja &
Kebaya/Kemben serta Sepeda & Andong yang boleh masuk
kota Jogja....layaknya 3in1 di Jakarta atau Nyepi di
Bali...

Hanya orang Jogja yang peduli pada keaslian Jogja....

Salam hangat
Bambang Bhakti
Kelahiran April 1951, Kalasan, Jogjakarta.

02 Oktober 2008

jogja kota sejuta motor


Lebih dari 916.204 unit motor tercatat di Jogja pada 2007. Bandingkan dengan jumlah mobil angkutan dan penumpang yang tak sampai seperlimanya. Bayangkan jika semua motor tumpah ruah di Malioboro yang panjangnya tak lebih dari 2 km. Maka setiap 1 Km bakal sesak oleh 458.102 motor. Jadi jangan heran kalau sering ada razia sepeda motor di Jogja. Tinggal hitung berapa potensi pendapatan negara jikalau seperlima saja dari jumlah sepeda motor kena tilang?

sedia payung sebelum jogja



Jika ke Jogja bulan Januari jangan lupa siapkan payung atau mantel di bagasi. Curah hujan sedang tinggi-tingginya di awal tahun. 24 hari dalam sebulan jogja bakal diguyur hujan awal tahun. Jikalau tak ingin berbasah-basahan, sambangi Jogja antara Juni dan September. Pada bulan-bulan itu almost every day is a sunny day . So, mau yang kering seperti bakmi goreng atau basah seperti bakmi godhog, atau yang nyemek-nyemek saja?

08 September 2008

kangen lompatan awal


Meski hanya tujuh tahun kuliah dan hidup di Jogja, kota gudeg ini itu sudah menjadi bagian hidup saya dan keluarga. Dari sana saya mendapat ijasah sarjana. Dari sana saya mendapat pacar dan istri. Dari sana saya mengenal gunung, keraton, sopan santun Jawa dan lainnya. Dari sana pula saya mendapat mental bisnis karena harus menghidupi diri sendiri selama kuliah. Dari sana saya melompat ke Jakarta untuk menguak lebih banyak peluang. Namun kemanapun saya melompat dan pergi, saya selalu ingin kembali ke merasakan lompatan awal. Saya selalu ingin ke Jogja kapan saja ada kesempatan karena Jogja tidak kehilangan aroma masa lalu meski sekarang pembangunan terus berkembang pesat.
Lebih jauh tentang mas Nukman Luthfie silakan tengok di sini

04 September 2008

nikmati jogja lambat-lambat

Bagi saya, Yogyakarta ibarat sebuah mimpi yang dibungkus selimut perca. Seolah imajinasi yang ditenun begitu rapi dan penuh mistis. Menikmatinya secara utuh kita perlu mengurainya satu demi satu,perlahan dan lambat-lambat. Karena memang di situ kenikmatannya, seperti menikmati secangkir kopi tubruk yang panas dan mengepul. Selalu saja ada bubuk kopi yang tersendak masuk di akhir cangkir. Tapi itulah rasa dan emosi yang sesungguhnya, bahwa Yogyakarta selalu punya kejutan yang menyentuh kita di tempat-tempat yang tidak kita sangka-sangka. Bagi saya, bangun tidur di Yogyakarta bisa menjadi pengalaman tersendiri. Jadi jangan heran, kalau perasaan kangen dan rindu selalu datang menyelinap, untuk selalu berkunjung ke Yogyakarta. Banyak orang yang mengatakan bahwa Yogyakarta tidak secantik dan seseru tempat tujuan pariwisata lain-nya. Mungkin mereka benar dalam arti kata Yogyakarta tidak pernah tampil menonjol secara eksplisit. Namun itulah tantangan dan kenikmatan sesungguhnya. Yogyakarta adalah ibarat gadis ayu yang sangat pemalu. Anda perlu menikmatinya dengan kesabaran yang jeli. Itu sebabnya tiap kali saya ke Yogyakarta saya selalu menemukan sesuatu yang baru dari yang sebelumnya terpendam.Dan satu pertanyaan selalu membisiki saya : "Kapan ke Jogja lagi ?"

Mau kenal lebih jauh dengan Kafi Kurnia, silakan klik di sini.

03 September 2008

temui teman baru, sambangi sobat lama


Kota Jogja, tentu, bukan hanya taman yang memamerkan kenangan. Namun juga ladang yang menyemai persahabatan, pelataran yang tergelar untuk bermain-main, ruang yang membentang untuk terus belajar: menjalani keseharian dalam kesahajaan, merentang cita-cita, membangun pemikiran, merancang pencapaian. Maka pada sepenggal jalan, di sudut lapangan, atau dalam beranda kamar, warga dan tetamu kota ini tak hanya menyimpan berbagai cerita lama mereka. Melainkan juga memproduksi cerita-cerita baru dalam interaksi sehari-hari. Singkatnya: Jogja membentuk dan mengingatkan untuk selalu memuliakan harkat kemanusiaan. Bagi yang mengunjungi kota ini lagi, setelah sekian lama terpaut darinya, Jogja seolah membawanya kembali menjejak bumi. Jadi, "Kapan ke Jogja Lagi?"

02 September 2008

reuni alumni jogja



Gambar di atas adalah iklan Dagadu Djokdja yang dimuat di Kompas menjelang lebaran tahun 2007.
Memang, Jogja adalah almamater yang punya banyak alumni. Kota ini memang tak pernah segan berbagi: menjadi tuan rumah bagi ribuan mahasiswa dan menyajikan pengalaman kepada jutaan wisatawan. Juga membingkiskan kenangan bagi siapa saja yang pernah tinggal, bekerja, berkreasi, atau sekadar bertandang mencerap suasana dan menggali inspirasi.
Tak mudah, memang, mempertahankan semua itu pada kota yang harus terus berderap. Maka dalam perubahan yang tak terelakkan, kota mestilah menyediakan ruang dan suasana yang menyenangkan: keren untuk ditinggali dan dikunjungi, asyik untuk bertemu dan berbagi.