08 September 2008

kangen lompatan awal


Meski hanya tujuh tahun kuliah dan hidup di Jogja, kota gudeg ini itu sudah menjadi bagian hidup saya dan keluarga. Dari sana saya mendapat ijasah sarjana. Dari sana saya mendapat pacar dan istri. Dari sana saya mengenal gunung, keraton, sopan santun Jawa dan lainnya. Dari sana pula saya mendapat mental bisnis karena harus menghidupi diri sendiri selama kuliah. Dari sana saya melompat ke Jakarta untuk menguak lebih banyak peluang. Namun kemanapun saya melompat dan pergi, saya selalu ingin kembali ke merasakan lompatan awal. Saya selalu ingin ke Jogja kapan saja ada kesempatan karena Jogja tidak kehilangan aroma masa lalu meski sekarang pembangunan terus berkembang pesat.
Lebih jauh tentang mas Nukman Luthfie silakan tengok di sini

04 September 2008

nikmati jogja lambat-lambat

Bagi saya, Yogyakarta ibarat sebuah mimpi yang dibungkus selimut perca. Seolah imajinasi yang ditenun begitu rapi dan penuh mistis. Menikmatinya secara utuh kita perlu mengurainya satu demi satu,perlahan dan lambat-lambat. Karena memang di situ kenikmatannya, seperti menikmati secangkir kopi tubruk yang panas dan mengepul. Selalu saja ada bubuk kopi yang tersendak masuk di akhir cangkir. Tapi itulah rasa dan emosi yang sesungguhnya, bahwa Yogyakarta selalu punya kejutan yang menyentuh kita di tempat-tempat yang tidak kita sangka-sangka. Bagi saya, bangun tidur di Yogyakarta bisa menjadi pengalaman tersendiri. Jadi jangan heran, kalau perasaan kangen dan rindu selalu datang menyelinap, untuk selalu berkunjung ke Yogyakarta. Banyak orang yang mengatakan bahwa Yogyakarta tidak secantik dan seseru tempat tujuan pariwisata lain-nya. Mungkin mereka benar dalam arti kata Yogyakarta tidak pernah tampil menonjol secara eksplisit. Namun itulah tantangan dan kenikmatan sesungguhnya. Yogyakarta adalah ibarat gadis ayu yang sangat pemalu. Anda perlu menikmatinya dengan kesabaran yang jeli. Itu sebabnya tiap kali saya ke Yogyakarta saya selalu menemukan sesuatu yang baru dari yang sebelumnya terpendam.Dan satu pertanyaan selalu membisiki saya : "Kapan ke Jogja lagi ?"

Mau kenal lebih jauh dengan Kafi Kurnia, silakan klik di sini.

03 September 2008

temui teman baru, sambangi sobat lama


Kota Jogja, tentu, bukan hanya taman yang memamerkan kenangan. Namun juga ladang yang menyemai persahabatan, pelataran yang tergelar untuk bermain-main, ruang yang membentang untuk terus belajar: menjalani keseharian dalam kesahajaan, merentang cita-cita, membangun pemikiran, merancang pencapaian. Maka pada sepenggal jalan, di sudut lapangan, atau dalam beranda kamar, warga dan tetamu kota ini tak hanya menyimpan berbagai cerita lama mereka. Melainkan juga memproduksi cerita-cerita baru dalam interaksi sehari-hari. Singkatnya: Jogja membentuk dan mengingatkan untuk selalu memuliakan harkat kemanusiaan. Bagi yang mengunjungi kota ini lagi, setelah sekian lama terpaut darinya, Jogja seolah membawanya kembali menjejak bumi. Jadi, "Kapan ke Jogja Lagi?"

02 September 2008

reuni alumni jogja



Gambar di atas adalah iklan Dagadu Djokdja yang dimuat di Kompas menjelang lebaran tahun 2007.
Memang, Jogja adalah almamater yang punya banyak alumni. Kota ini memang tak pernah segan berbagi: menjadi tuan rumah bagi ribuan mahasiswa dan menyajikan pengalaman kepada jutaan wisatawan. Juga membingkiskan kenangan bagi siapa saja yang pernah tinggal, bekerja, berkreasi, atau sekadar bertandang mencerap suasana dan menggali inspirasi.
Tak mudah, memang, mempertahankan semua itu pada kota yang harus terus berderap. Maka dalam perubahan yang tak terelakkan, kota mestilah menyediakan ruang dan suasana yang menyenangkan: keren untuk ditinggali dan dikunjungi, asyik untuk bertemu dan berbagi.