04 September 2008

nikmati jogja lambat-lambat

Bagi saya, Yogyakarta ibarat sebuah mimpi yang dibungkus selimut perca. Seolah imajinasi yang ditenun begitu rapi dan penuh mistis. Menikmatinya secara utuh kita perlu mengurainya satu demi satu,perlahan dan lambat-lambat. Karena memang di situ kenikmatannya, seperti menikmati secangkir kopi tubruk yang panas dan mengepul. Selalu saja ada bubuk kopi yang tersendak masuk di akhir cangkir. Tapi itulah rasa dan emosi yang sesungguhnya, bahwa Yogyakarta selalu punya kejutan yang menyentuh kita di tempat-tempat yang tidak kita sangka-sangka. Bagi saya, bangun tidur di Yogyakarta bisa menjadi pengalaman tersendiri. Jadi jangan heran, kalau perasaan kangen dan rindu selalu datang menyelinap, untuk selalu berkunjung ke Yogyakarta. Banyak orang yang mengatakan bahwa Yogyakarta tidak secantik dan seseru tempat tujuan pariwisata lain-nya. Mungkin mereka benar dalam arti kata Yogyakarta tidak pernah tampil menonjol secara eksplisit. Namun itulah tantangan dan kenikmatan sesungguhnya. Yogyakarta adalah ibarat gadis ayu yang sangat pemalu. Anda perlu menikmatinya dengan kesabaran yang jeli. Itu sebabnya tiap kali saya ke Yogyakarta saya selalu menemukan sesuatu yang baru dari yang sebelumnya terpendam.Dan satu pertanyaan selalu membisiki saya : "Kapan ke Jogja lagi ?"

Mau kenal lebih jauh dengan Kafi Kurnia, silakan klik di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar