06 Oktober 2008

jogja memang istimewa

Jogja itu memang layak disebut Daerah Istimewa, bukan
saja urusan politik pemerintahan, tetapi justru bagi
orang yang sering keliling nusantara, pasti akan
merasa perbedaan yang kasat mata ketika memasuki kota
Jogja...

Greget kesibukan dan khususnya kreatifitas menandakan
bahwa Jogja itu memang menggeliat ekonominya... Lihat
saja papan nama toko, spanduk warung yang dirancang
dengan sangat 'modern', juga perubahan dari kota penuh
sesak sepeda ke kota motor-bebek... Wah, sungguh hidup
kota Jogja itu...

Yang bikin gemez juga ada, sisi baik pertumbuhan
ekonomi ternyata juga menggilas persawahan yang hijau
menjadi kompleks pertokoan dan perumahan, bahkan
pabrik... Jangan-jangan saat ini atau mendatang, Jogja
akan jadi pengimpor beras dan hasil pertanian...

Dahulu, sering kita lihat para perempuan Jogja
berjalan kaki dengan kebaya-nya yang membat mereka
tampil ayu, bersahaja dan tradisional...kini, hanya
tampil ketika ada 'ewuh' dirumah keluarga... Hilang
ditelan modernisasi...

Mana "sang Icon" Jogja sebagaimana proses ritual dan
budaya Bali? Bukan, bukan ingin menjadikan Jogja
"kuno" kembali, tetapi rasa rindu pada Jogja Asli yang
tempo doeloe merupakan nilai-nilai asli Jogjakarta
sering muncul ketika memasuki kota Jogja....

Siapa yang harus melestarikannya? Pertanyaannya bukan
"Kapan ke Jogja Lagi?", tetapi "Mengapa ke Jogja
lagi?", ada apa di Jogja? Adakah sesuatu yang Jogja
punya tetapi Bali tidak punya? Yang membuat orang2
Jogja ataupun Non-Jogja menjadi berlarian ke Jogja
kalau liburan/weekend...

Tabu Genderang "Jogja Asli & Asri"...hari-hari
tertentu kembalikan Blankon-Surjan Jogja &
Kebaya/Kemben serta Sepeda & Andong yang boleh masuk
kota Jogja....layaknya 3in1 di Jakarta atau Nyepi di
Bali...

Hanya orang Jogja yang peduli pada keaslian Jogja....

Salam hangat
Bambang Bhakti
Kelahiran April 1951, Kalasan, Jogjakarta.

1 komentar: