22 Desember 2008

jogjabulary [A: andhong]


Lupakan dulu ergonomi dan efisiensi. Bagi andhong, yang penting adalah citra priyayi. Rodanya saja empat. Jelas tak seefisien bendi atau sado, delman atau cidomo. Dengan garis disain yang ningrat, bodi andhong memancarkan citra aristokrat. Prioritasnya memang bukan kelincahan atau keandalan dalam balapan, tapi tampilan serupa kereta bangsawan. Soal dayaguna, itu nomer dua. Karena gaya adalah segalanya! Andhong (juga becak) tak menghasilkan karbon monoksida. Kontribusi keduanya dalam jaringan transportasi publik di Jogja kian terjepit, tapi bukan oleh bis kota (apalagi kereta subway atau monorail) yang lebih nyaman dan murah bagi warga. Melainkan akibat merajanya kendaraan pribadi, yang kian jawara dalam memproduksi polutan sekaligus kemacetan.