26 Oktober 2009

jazz rasa desa, desa beraroma jazz

Untuk anda yang sudah tidak sabar menyantap hidangan jazz dengan resep unik ala chef Jogja, nantikan Ngayogjazz #3 dengan tajuk "Jazz Basuki Mawa Beya" pada hari Sabtu, 21 November 2009.
Seperti biasa akan disajikan secara prasmanan sejak jam 15.00 sore hingga 24.00 wib. Perhelatan kali ini digelar di Pasar Seni Gabusan Bantul Yogyakarta.
Jadi, kapan ke Jogja lagi? Kapan ngejazz lagi?

17 September 2009

mudik ala Dagadu-Djokdja

Bersama mengenang masa lalu, untuk sigap selalu ke masa depan.

Mudik; sebagian dari kitamungkin saat ini tengah menjalani atau mempersiapkannya. Mau tidak mau kegiatan ini sudah tumbuh menjadi sebuah fenomena budaya yang hanya ada dan terjadi di tanah air tercinta. Sayangnya fenomena ini lambat laun menjadi ironi rutinitas lantaran tersaji monoton yang entah sampai kapan berhenti. Ironi rutinitas yang selalu membuahkan cerita kemacetan, kecelakaan, dan segenap bias negatif lainnya. Tiba-tiba hangat menjadi topik pembicaraan, mereka yang menghalalkan segala cara asalkan bisa mudik kembali ke kampung halaman. Ironi mudik tanpa esensi kembali ke akar keluarga dan kampung halaman yang sesungguhnya. Berangkat dari pemikiran bahwa Jogjakarta sebagai salah kota yang banyak dituju oleh para pemudik, Dagadu-Djokdja sebagai brand aseli Jogja mencoba bersikap responsif mengajak warga kota Jogja lainnya untuk menjadi tuan rumah yang lebih baik dan tidak terlena hanyut dalam siklus monoton. Kali ini Dagadu Djokdja mencoba untuk merespon fenomena mudik dengan caranya, dengan harapan bisa memberi warna baru atas fenomena mudik dari tahun ke tahun. Di tahun 2009 ini, Dagadu Djokdja telah bersiap dengan ”Roemah Moedik # 5”.

Selama kurang lebih sepuluh hari, dari tanggal 18 – 27 September 2009, Unit Gawat Dagadu (UGD ) Jl. Pakuningratan No.15 -17 Yogyakarta berubah menjadi tempat singgah para pemudik untuk merasakan kembali akar budaya mereka sebagai wong Jogja. UGD menjadi tempat singgah yang akan kembali membawa kenangan–kenangan 'tempo doeloe' khususnya masa tahun 1945 dalam tajuk ”Roemah Moedik Dagadu Djokdja”.

“Roemah Moedik” mengajak para alumni Yogyakarta untuk mendayung perahu ke hulu keluarga, budaya, dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dengan menikmati suguhan kuliner dan atmosfir khas tempo doeloe tahun 1945-1949. Warna, makna, dan atmosfir perjuangan coba ditawarkan lantaran menyambung bulan Ramadhan tahun ini yang sangat spesial karena bersamaan dengan bulan Agustus yang keramat bagi bangsa Indonesia, di mana puncak perjuangan kemerdekaan bangsa terjadi di bulan ini.

Sesuai dengan keinginannya untuk memberikan sentuhan personal, tersaji juga sajian kuliner jadul yang tidak semata bicara kenikmatan rasa yang hanya di ujung lidah sampai ujung kerongkongan saja, melainkan menyelami peristiwa perkawinan budaya. Inilah bukti kakek nenek kita memiliki “kecerdasan kuliner” yang tinggi sehingga mudah menyerap dan mengembangkan pengaruh dari luar menjadi entitas baru seperti lumpia, cap jay, bir pletok, leker, sempe, spekuk, selat, dan es podeng. Semoga hal ini tidak diplesetkan maknanya sebagai “pintar makan, tapi malas bekerja”.

Pada “Roemah Moedik” ini Dagadu juga mengangkat sisi daya juang kakek nenek kita dalam merebut kemerdekaan. Karya poster dengan pendekatan propaganda perjuangan dan karya 3 dimensi replika markas pejuang akan dipresentasikan dengan pencahayaan yang temaram. Hal ini dimaksudkan untuk membangun suasana yang kontemplatif sehingga pengunjung bisa meresapi lebih dalam setiap makna karya, baik yang tersurat dan tersirat. Tidak cukup sampai disitu, “Roemah Moedik” kali ini juga menawarkan sisi hiburan interaktif, mulai dari permainan perang-perangan, lajar tancap dengan film–film tempo doeloe, sampai dengan sajian musik yang mampu membawa alam imaji kita ke tahun 1945.

Meski sudah mempersiapkan gelaran ini dengan cermat, Dagadu tetap saja merasa jika kesuksesan “Roemah Moedik” ini akan lebih terasa jika ada peran aktif semua warga Jogja untuk merasa menjadi tuan rumah yang baik. Dagadu merasa jika Yogyakarta adalah ladang untuk menyemai persahabatan, pelataran yang terhampar sebagai ruang untuk bermain dan belajar bersama antar sesama warga kota. Mari sama–sama berbenah, membuka pintu lebar-lebar, menjaga senyum silaturahmi di hari fitri, menyambut kerabat handai taulan alumni kota ini dengan saling berbagi dan mengenang cerita lama untuk merangkai harapan baru sebagai kota Jogja yang selalu menyenangkan untuk dikunjungi.

“Roemah Moedik” mengajak semua orang untuk kembali ke hulu keluarga, budaya dan sejarah perjuangan bangsa. Duduk sebentar menghirup segarnya bau tanah kelahiran dan ikut dalam antrian sungkeman dengan orang terkasih. “Roemah Moedik” sebuah perjalanan ke hulu yang bermuatan rohani yang akan menjadi bekal untuk berlayar kembali ke samudra kehidupan luas tak terbatas.

Sejenak rehat sembari bercermin pada masa lalu, siapa tahu ada hal yang bisa digugu dan ditiru.

11 Agustus 2009

giat kursus pangkal pandai

O coba kawan kaudengar ku punya crita...
Tempat biasa kuberbagi rasa
Suka duka tinggi bersama di gang gelap di balik ramainya Jogja…

Mari sini berkumpul kawan
Ooouu ooo ouo...
Dansa-dansa sambil tertawa ha.ha

Bila kau datang dari selatan
Langsung saja menuju Gondomanan
Belok kanan sebelum perempatan, teman2 yang menunggu di Sayidan..

Di Sayidan… di jalanan… angkat skali lagi gelasmu kawan…
Di Sayidan… di jalanan… tuangkan air kedamaian...


Begitulah Shaggydog menggambarkan Sayidan, sebuah kampung di tengah kota Yogyakarta. Kehangatan Sayidan tidak saja menginspirasi Shaggydog dalam berkarya, setidaknya sejak Februari 2009 yang lalu di kampung itu, di gang yang diceritakan oleh Shaggydog itu, suara khas mesin jahit berputar berderecak dan canda ria beberapa remaja puteri terdengar saling menimpali bagaikan harmoni sebuah orkestrasi. Sesekali terdengar suara seseorang memberikan instruksi seolah vokal sang solis. Itulah gambaran aktifitas sebuah lembaga pendidikan Kursus Kepandaian Putri GIAT.

Lembaga pendidikan nonformal yang banyak mengajarkan kursus jahit ini ternyata sudah berdiri kurang lebih 58 tahun lamanya, tepatnya sejak bulan maret 1951. Selain Sekolah Kepandaian Puteri (SKP) yang bersifat formal (sekarang berubah menjadi SMK), pada saat itu pula sebenarnya telah ada beberapa lembaga kursus serupa, namun mayoritas mereka menyampaikan materi dengan sistem yang terlalu kompleks, hingga akhirnya Nyonya Hendro Nugroho, pendiri kursus ini, berpikir untuk mendirikan lembaga kursus dengan metode yang lebih sederhana dan praktis yang benar-benar ’tailor made’ disesuaikan dengan tingkat kemampuan belajar setiap siswa. Itulah sebabnya sampai saat ini materi yang diajarkan berbeda tingkatannya untuk setiap siswa.

Pada awalnya lembaga ini bernama GIOK, yang kemudian berganti nama manjadi GIAT. Saat ini GIAT dikelola oleh generasi ketiga, yaitu oleh Ibu Sri Lestari. Sejak berdiri sampai dengan bulan Februari 2009 yang lalu GIAT beralamat di Jl Limaran No 3 di timur pasar Beringharjo atau lebih dikenal dengan Loji Kecil, namun dikarenakan tempat tersebut akan direnovasi, saat itulah kemudian GIAT pindah ke Sayidan GM 2 Gondokusuman. Tepatnya dari perempatan Gondomanan kearah selatan, sampai di lampu merah belok kiri masuk gang ke timur, kurang lebih 20 meter sudah terlihat kotak merah menyala menyapa di sisi kanan.

Ketika ditanya perihal kiat bertahan dan suksesnya, Bu Sri menyebutkan hanya kesederhanaan tanpa harapan dan mimpi yang muluk-muluk. Hanya berbekal kabar dari mulut ke mulut sampai saat ini GIAT tidak pernah kekurangan siswa. Bahkan siswa didiknya berasal dari segenap penjuru Nusantara. Muridnya kini berjumlah 27 orang, beberapa diantaranya berasal dari Medan, Kalimantan, Flores Dan NTT, dengan beragam usia, mulai dari yang masih belasan hingga lima puluhan tahun dari beragam profesi dan tingkatan ekonomi.

Bila kau datang dari selatan
Langsung saja menuju Gondomanan
Belok kanan sebelum perempatan, teman2 yang menunggu di Sayidan..


Memang, Jogja pangkal pandai…

06 Mei 2009

jogjabulary [D: DJ aka Lodang]

Bukan Disc Jockey As Known As Lodang. Djaka Lodang satu ini adalah majalah berbahasa jawa yang terbit di Yogyakarta sejak 1 Juni 1971. Majalah bertiras 10.000 eksemplar ini tetap digdaya kala media sejenis gulung tikar. Jangan kaget bila tak melihat satupun iklan bertengger. Djaka Lodang tetap 'pe-de' tanpa pengiklan karena beribu pelanggan menunggu sang jejaka sambang. Salah satu rubriknya, Jagading Lelembut, menjadi legendaris berkat konsistensi menghadirkan cerita hantu yang selalu bisa menjadi amunisi obrolan di gardu ronda saat semua topik lain sudah terbahas habis.

29 April 2009

jogjabulary [C: Cum laude]


Menurut indeks prestasi (IP)-nya, mahasiswa Jogja terbagi atas tiga golongan. Pertama, cum laude. Mahasiswa berpredikat ini merupakan mahasiswa dengan IP diatas rata-rata. Biasanya diatas 3 koma 5 . Saat wisuda, mahasiswa golongan ini memakai slempang kuning sebagai lambang kedigdayaan. Kedua, PMDK. Yang disebut ke dua ini bukan golongan mahasiswa yang melenggang bebas ke universitas lantaran berotak kinclong dan berbakat. PMDK adalah Persatuan Mahasiswa Dua Koma. Jika Kartu Hasil Studimu menunjuk angka 2 koma sekian maka kamu termasuk dalam golongan ini. Ketiga, Nasakom. Bukan Nasionalis, Agama, dan Komunis ala Bung Karno melainkan Nasib Satu Koma. Mereka yang termasuk golongan ini adalah mahasiswa ber-IP dibawah dua koma. Biasanya kaum Nasakom merupakan kaum yang sabar dan setia dengan kuliahnya, atau masih berat meninggalkan kota Jogja.

24 April 2009

jogjabulary [B: Bajigur]


1. Sejenis minuman; paduan antara kopi, gula dan santan kelapa. 2. Semacam umpatan yang diperhalus. Ya, di Jogja umpatan pun kadang perlu ditundukkan dalam tata krama. Sebab tujuannya bukanlah mencaci-maki kondisi lewat sarkasme. Yang lebih mendesak justru upaya memahami kondisi, menyiasati, atau bahkan menertawakannya. Nah ”bajigur!” diharapkan berperan penting dalam proses menciptakan pandangan kritis dan membangun solusi alternatif. Bajigur sebagai minuman dapat dijumpai antara lain di Bakmi Kadin, Bintaran. Bajigur sebagai umpatan ringan muncul di mana-mana. Bajigur tenan...