11 Agustus 2009

giat kursus pangkal pandai

O coba kawan kaudengar ku punya crita...
Tempat biasa kuberbagi rasa
Suka duka tinggi bersama di gang gelap di balik ramainya Jogja…

Mari sini berkumpul kawan
Ooouu ooo ouo...
Dansa-dansa sambil tertawa ha.ha

Bila kau datang dari selatan
Langsung saja menuju Gondomanan
Belok kanan sebelum perempatan, teman2 yang menunggu di Sayidan..

Di Sayidan… di jalanan… angkat skali lagi gelasmu kawan…
Di Sayidan… di jalanan… tuangkan air kedamaian...


Begitulah Shaggydog menggambarkan Sayidan, sebuah kampung di tengah kota Yogyakarta. Kehangatan Sayidan tidak saja menginspirasi Shaggydog dalam berkarya, setidaknya sejak Februari 2009 yang lalu di kampung itu, di gang yang diceritakan oleh Shaggydog itu, suara khas mesin jahit berputar berderecak dan canda ria beberapa remaja puteri terdengar saling menimpali bagaikan harmoni sebuah orkestrasi. Sesekali terdengar suara seseorang memberikan instruksi seolah vokal sang solis. Itulah gambaran aktifitas sebuah lembaga pendidikan Kursus Kepandaian Putri GIAT.

Lembaga pendidikan nonformal yang banyak mengajarkan kursus jahit ini ternyata sudah berdiri kurang lebih 58 tahun lamanya, tepatnya sejak bulan maret 1951. Selain Sekolah Kepandaian Puteri (SKP) yang bersifat formal (sekarang berubah menjadi SMK), pada saat itu pula sebenarnya telah ada beberapa lembaga kursus serupa, namun mayoritas mereka menyampaikan materi dengan sistem yang terlalu kompleks, hingga akhirnya Nyonya Hendro Nugroho, pendiri kursus ini, berpikir untuk mendirikan lembaga kursus dengan metode yang lebih sederhana dan praktis yang benar-benar ’tailor made’ disesuaikan dengan tingkat kemampuan belajar setiap siswa. Itulah sebabnya sampai saat ini materi yang diajarkan berbeda tingkatannya untuk setiap siswa.

Pada awalnya lembaga ini bernama GIOK, yang kemudian berganti nama manjadi GIAT. Saat ini GIAT dikelola oleh generasi ketiga, yaitu oleh Ibu Sri Lestari. Sejak berdiri sampai dengan bulan Februari 2009 yang lalu GIAT beralamat di Jl Limaran No 3 di timur pasar Beringharjo atau lebih dikenal dengan Loji Kecil, namun dikarenakan tempat tersebut akan direnovasi, saat itulah kemudian GIAT pindah ke Sayidan GM 2 Gondokusuman. Tepatnya dari perempatan Gondomanan kearah selatan, sampai di lampu merah belok kiri masuk gang ke timur, kurang lebih 20 meter sudah terlihat kotak merah menyala menyapa di sisi kanan.

Ketika ditanya perihal kiat bertahan dan suksesnya, Bu Sri menyebutkan hanya kesederhanaan tanpa harapan dan mimpi yang muluk-muluk. Hanya berbekal kabar dari mulut ke mulut sampai saat ini GIAT tidak pernah kekurangan siswa. Bahkan siswa didiknya berasal dari segenap penjuru Nusantara. Muridnya kini berjumlah 27 orang, beberapa diantaranya berasal dari Medan, Kalimantan, Flores Dan NTT, dengan beragam usia, mulai dari yang masih belasan hingga lima puluhan tahun dari beragam profesi dan tingkatan ekonomi.

Bila kau datang dari selatan
Langsung saja menuju Gondomanan
Belok kanan sebelum perempatan, teman2 yang menunggu di Sayidan..


Memang, Jogja pangkal pandai…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar