17 September 2009

mudik ala Dagadu-Djokdja

Bersama mengenang masa lalu, untuk sigap selalu ke masa depan.

Mudik; sebagian dari kitamungkin saat ini tengah menjalani atau mempersiapkannya. Mau tidak mau kegiatan ini sudah tumbuh menjadi sebuah fenomena budaya yang hanya ada dan terjadi di tanah air tercinta. Sayangnya fenomena ini lambat laun menjadi ironi rutinitas lantaran tersaji monoton yang entah sampai kapan berhenti. Ironi rutinitas yang selalu membuahkan cerita kemacetan, kecelakaan, dan segenap bias negatif lainnya. Tiba-tiba hangat menjadi topik pembicaraan, mereka yang menghalalkan segala cara asalkan bisa mudik kembali ke kampung halaman. Ironi mudik tanpa esensi kembali ke akar keluarga dan kampung halaman yang sesungguhnya. Berangkat dari pemikiran bahwa Jogjakarta sebagai salah kota yang banyak dituju oleh para pemudik, Dagadu-Djokdja sebagai brand aseli Jogja mencoba bersikap responsif mengajak warga kota Jogja lainnya untuk menjadi tuan rumah yang lebih baik dan tidak terlena hanyut dalam siklus monoton. Kali ini Dagadu Djokdja mencoba untuk merespon fenomena mudik dengan caranya, dengan harapan bisa memberi warna baru atas fenomena mudik dari tahun ke tahun. Di tahun 2009 ini, Dagadu Djokdja telah bersiap dengan ”Roemah Moedik # 5”.

Selama kurang lebih sepuluh hari, dari tanggal 18 – 27 September 2009, Unit Gawat Dagadu (UGD ) Jl. Pakuningratan No.15 -17 Yogyakarta berubah menjadi tempat singgah para pemudik untuk merasakan kembali akar budaya mereka sebagai wong Jogja. UGD menjadi tempat singgah yang akan kembali membawa kenangan–kenangan 'tempo doeloe' khususnya masa tahun 1945 dalam tajuk ”Roemah Moedik Dagadu Djokdja”.

“Roemah Moedik” mengajak para alumni Yogyakarta untuk mendayung perahu ke hulu keluarga, budaya, dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dengan menikmati suguhan kuliner dan atmosfir khas tempo doeloe tahun 1945-1949. Warna, makna, dan atmosfir perjuangan coba ditawarkan lantaran menyambung bulan Ramadhan tahun ini yang sangat spesial karena bersamaan dengan bulan Agustus yang keramat bagi bangsa Indonesia, di mana puncak perjuangan kemerdekaan bangsa terjadi di bulan ini.

Sesuai dengan keinginannya untuk memberikan sentuhan personal, tersaji juga sajian kuliner jadul yang tidak semata bicara kenikmatan rasa yang hanya di ujung lidah sampai ujung kerongkongan saja, melainkan menyelami peristiwa perkawinan budaya. Inilah bukti kakek nenek kita memiliki “kecerdasan kuliner” yang tinggi sehingga mudah menyerap dan mengembangkan pengaruh dari luar menjadi entitas baru seperti lumpia, cap jay, bir pletok, leker, sempe, spekuk, selat, dan es podeng. Semoga hal ini tidak diplesetkan maknanya sebagai “pintar makan, tapi malas bekerja”.

Pada “Roemah Moedik” ini Dagadu juga mengangkat sisi daya juang kakek nenek kita dalam merebut kemerdekaan. Karya poster dengan pendekatan propaganda perjuangan dan karya 3 dimensi replika markas pejuang akan dipresentasikan dengan pencahayaan yang temaram. Hal ini dimaksudkan untuk membangun suasana yang kontemplatif sehingga pengunjung bisa meresapi lebih dalam setiap makna karya, baik yang tersurat dan tersirat. Tidak cukup sampai disitu, “Roemah Moedik” kali ini juga menawarkan sisi hiburan interaktif, mulai dari permainan perang-perangan, lajar tancap dengan film–film tempo doeloe, sampai dengan sajian musik yang mampu membawa alam imaji kita ke tahun 1945.

Meski sudah mempersiapkan gelaran ini dengan cermat, Dagadu tetap saja merasa jika kesuksesan “Roemah Moedik” ini akan lebih terasa jika ada peran aktif semua warga Jogja untuk merasa menjadi tuan rumah yang baik. Dagadu merasa jika Yogyakarta adalah ladang untuk menyemai persahabatan, pelataran yang terhampar sebagai ruang untuk bermain dan belajar bersama antar sesama warga kota. Mari sama–sama berbenah, membuka pintu lebar-lebar, menjaga senyum silaturahmi di hari fitri, menyambut kerabat handai taulan alumni kota ini dengan saling berbagi dan mengenang cerita lama untuk merangkai harapan baru sebagai kota Jogja yang selalu menyenangkan untuk dikunjungi.

“Roemah Moedik” mengajak semua orang untuk kembali ke hulu keluarga, budaya dan sejarah perjuangan bangsa. Duduk sebentar menghirup segarnya bau tanah kelahiran dan ikut dalam antrian sungkeman dengan orang terkasih. “Roemah Moedik” sebuah perjalanan ke hulu yang bermuatan rohani yang akan menjadi bekal untuk berlayar kembali ke samudra kehidupan luas tak terbatas.

Sejenak rehat sembari bercermin pada masa lalu, siapa tahu ada hal yang bisa digugu dan ditiru.