14 Desember 2010

12 Oktober 2010

jogjabulary: [N : Nggenjot]

Nggenjot punya teman namanya ngonthel yang masih tetangga dengan ngawil atau ngosek. Anak 'jaman sekarang' lebih kenal nggowes. Nyengklak juga berkerabat dengan nyadhel. Ini semua kosakata bersepeda di Jogja. Gorys Keraf, pakar bahasa, menyebut fenomena kebahasaan semacam itu sebagai nasalisasi, perubahan bentuk fonem. Bahasa Jawa getol mengadaptasi pemikiran ini ke dalam ragam kosakatanya. Hasilnya segala lema dinasalisasi. Dari nyabut (kata dasar cabut) sampai nyetting (kata dasar setting). Dari nggenjot (kata dasar genjot) hingga nggrafis (kata dasar grafis). Format dan flashdisc juga ikut diserap dan dinasalkan menjadi mormat dan mlashdisc.
Tak heran Bahasa Jawa benar-benar kaya ragam. Segala lema asing diharmoniskan via nasalisasi. Jadi tak perlu bingung mencari kata kerja dari sebuah tindakan dalam bahasa Jawa. Cukup dinasalkan dan jadilah kosakata baru. Jangan heran kalau orang Jogja punya hobi baru: nglesot sambil nglaptop.

gambar: www.dagadu.co.id

30 Juni 2010

jogja pancen ngangeni

Kangen; sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yang kurang lebih membalut rapi berbagai ingredient perasaan ingin bertemu lagi, ingin berkunjung kembali, ingin mengulangi sesuatu, ingin merasakan sensasi yang pernah dialami dalam sebuah paket perasaan di hati. Asal kata kangen adalah ‘angen’ atau angan-angan, mendapat awalan ‘ka’, ka+angen. Kira-kira berarti gambaran sebuah perasaan yang sangat didambakan hingga terbawa dalam angan-angan. Bila rasa kangen sudah menggelayut di hati, maka obat yang paling mujarab ya meladeninya. Alias memenuhi apa yang telah lama menjadi angan-angan tersebut.

Bila Anda merasa kangen dengan masa kecil, atau kangen dengan suasana Jogja ya datanglah ke Jogja. Atau setidaknya silakan datang ke Pasar Kangen Jogja (PKJ) 2010 yang berlangsung dari tanggal 26 Juni hingga 4 Juli 2010 di arena Taman Budaya Yogyakarta. Di pasar ini Anda bisa temui berbagai barang yang serba unik dari pakaian hingga jajanan, dari mainan hingga lukisan. Pokoknya tumplek bleg. Tidak ada demo rusuh berebut los atau kios, tak ada preman pasar yang bikin onar, tak ada penggusuran lapak oleh pengelola pasar yang galak. Yang ada justru suasana sesrawungan yang hangat dan segar antar stakeholder pasar yang belakangan sulit untuk ditemukan di pasar-pasar yang lain.

Ops, tunggu dulu. Rupa-rupanya Pasar Kangen ini tidak akan mengobati rasa kangen Anda. Pasar ini justru menebar dan merasuki perasaan Anda agar tetap kangen dengan suasana Jogja, lebih kangen dan lebih kangen lagi. Jadi, kapan ke Jogja lagi?

Bocoran yang saya kuping dari lurah pasar: “Kemungkinan pasarnya tidak akan bubar tanggal 4 juli, mungkin mau tetap buka untuk menyambut tamu-tamu muktamar Muhammadiyah di Jogja hingga 11 Juli 2010”.

17 Juni 2010

jogjabulary [ F : Festival ]


Jogja adalah kota beragam festival. Dari Festival Kesenian Yogyakarta yang digelar tahunan sampai festival buku yang nyaris ada setiap bulan. Dari festival layang-layang di Parangtritis sampai festival Bekakak di Ambarketawang. Dari festival gamelan yang syahdu sampai festival musik underground yang hingar-bingar. Dari festival otomotif yang serba canggih sampai festival perkutut yang serba kutut. Dari festival film indie sampai festival seni tradisi. Dari festifal orkes sampai festival jazz. Dari festival putri kecantikan sampai festival anjing kesayangan.

Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang ke-22 saat ini sedang berlangsung hingga 7 Juli 2010 mendatang.

gambar: www.dagadu.co.id

25 Januari 2010

mantel atawa mantol?


Toko ini menuliskan kata MANTEL di papan nama dan MANTOL di dalam notanya. Bahkan sesekali kita mendengar orang menyebutnya MANTROL. Semua itu yang dimaksudkan tak lain adalah pelindung tubuh dari efek kuyup akibat air hujan.
Mana yang benar? Mau menyebutnya mantel, mantol atawa mantrol, terserah Anda yang penting pastikan ia selalu tersedia.
Tambah Gambar

05 Januari 2010

jas hujan iket blangkon

”Jas buka’ iket blangkon” artinya ”sama juga’ alias sami mawon”. Begitulah orang Jogja berpantun. Kalau ”jas hujan iket blangkon” artinya apa? Ya itu plesetan dari pantun di atas, artinya kurang lebih ”jas hujan bikinan Jogja”. Halah, maksa.

Datang ke Jogja bisa dilakukan kapan saja, baik musim kemarau ataupun penghujan, sama asyiknya. Justru menikmati Jogja di kala rintik hujan akan terasa lebih romantis. Asalkan kita bisa mempersiapkan diri agar tak ’saltum’.

Seperti halnya di awal 2010 ini. Hujan sudah mulai sering menyambangi Jogja. Nah, jika ingin liburan di Jogja tetap berkesan jangan lupa untuk bersiap, setidaknya mengantongi informasi penyedia kebutuhan kostum musim hujan.

Salah satunya adalah toko mantel dan jas hujan plastik “Serba Guna”. Berlokasi di jalan Gandekan kampung Kemetiran Lor Yogyakarta. Masih agak bingung? Kira-kira 300 meter arah selatan dari jalan Pasar Kembang alias Sarkem. Nah, sekarang sudah mulai mudheng bukan?
Sejak tahun 1960 toko ini sudah melayani kebutuhan kostum musim hujan bagi masyarakat Jogja seperti jas hujan dalam berbagai model dan ukuran, payung dan sepatu boot. Toko kecil atau lebih pas disebut kios sederhana berukuran lebih kurang 4 x 6 m2 ini selain menjual juga melayani pembuatan jas hujan 'customized'. Ternyata pesanan tidak saja datang dari kota Jogja, namun beberapa kali pesanan datang dari luar Jogja seperti Kalimantan Timur, Gorontalo, dan Papua.

Tak kalah dengan para penjual barang elektronik ataupun dealer kendaraan bermotor, salah satu hal yang membuat tempat ini laris manis dan makin dikenal masyarakat yaitu layanan purna jual berupa perbaikan gratis. ”Berlaku sepanjang masa, khusus untuk barang yang dibeli dari toko saya sepanjang barang tersebut juga masih memungkinkan untuk direparasi”, demikian kata pak Jono yang merupakan generasi ketiga pengelola toko itu. Yang juga bikin toko ini tampil beda yaitu tersedianya ukuran jumbo yang tidak dimiliki toko-toko jas hujan lainnya. ”Ukuran jumbo ini produk asli toko kami yang pembuatannya dikerjakan secara home industry”, tambah bapak tiga anak tersebut. Sedangkan untuk jas hujan dengan ukuran kecil dan sedang biasanya ia datangkan dari Jakarta dan Surabaya. Harga jas hujan yang ditawarkan sangat bervariasi dari harga Rp3 ribuan, yakni jas hujan dari bahan plastik tipis transparan. Biasa dipakai oleh para pengemudi becak, mbok-mbok bakul ataupun para "pekerja bersepeda" lainnya. Selain alasan harga yang amat murah, jas hujan jenis ini juga terasa ringan dipakai karena tidak mengganggu kala bermanuver di jalanan Jogja. Ada pula jas hujan seharga Rp350 ribu. Jenis ini didapatkan dari produsen luar negeri seperti Korea dan Vietnam via internet.

Jadi, sedia payung sebelum Jogja. Jika terlupa pun tentu tiada mengapa, toko Serba Guna s'lalu siap sedia.