24 November 2011

jumpa pertama di kotagede,

Dinding tua jadi saksinya. Hasrat ternyata timbul di sana, kota legenda kota tua1).

Kotagede adalah dinding-dinding tinggi, adalah lorong-lorong sempit, adalah pasar, juga masjid, dan makam, dan orang-orangnya. Tentu ia tak setua Demak, jepara, apalagi Banten, Tuban ataupun Surabaya. Tetapi Kotagede sedikit beruntung karena nuansa kota lamanya relatif masih terasa, bahkan bila dibanding kota-kota tradisional Jawa yang lebih muda seperti Pleret, Karta dan Kartasura.

"Betapa takabur orang Jawa yang tak mendirikan pagar di pekarangannya"2). Maka Panembahan Senopati pun mendapat pembenaran untuk membangun benteng pertahanan berparit-dalam di keliling istananya.
Sejak itu, siaplah ia melepas diri dari bayang-bayang kekuasaan Pajang. Dan, Kotagede menjadi ibukota pertama Mataram Islam sebelum kelak ditinggal pindah pada 1614.

Kotagede adalah suara beraneka3).
Suara pengajian bersahut-sahutan pada dini hari. Suara tapak kaki menuju masjid menyongsong pagi.
Suara tawar menawar riuh di pasar, suara tatah menempa perak bakar, sepatu kuda dan roda sepeda menggilas jalan raya, juga deruderit mesin jahit. Sementara keheningan tetap terjaga di masjid, di permukiman dan makam raja-raja Mataram.

Cuma itu?
jangan berkata "cuma", kalau bicara tentang cinta4).
Maka, say good-bye for yesterday, it's the word I'll never say...... 5)


1) modifikasi bebas dari lagu Nicky Astria "Cinta di Kota Tua" ciptaan Donny F/Yudhie NH
2) Babad Tanah Jawa mencatat kalimat ini sebagai ucapan Sunan Kalijaga.
3) versi aslinya ...rakyat adalah suara beraneka... dari puisi Hartoyo Andangjaya berjudul "Rakyat"
4) baris ke 95-96 "Orang Biasa" karya WS Rendra, dalam kumpulan puisi "Orang-orang Rangkasbitung"
5) Madonna melantunkan "It Used to be My Playground"

22 November 2011

cerita kecil kotagede

Meski sudah lebih dari dua pekan perhelatan Ngayogjazz yang ke-7 diselenggarakan di Kotagede 12 November lalu, namun masih saja melekat banyak kesan dan rasa penasaran yang berkait berkelindan dalam ingatan. Perpaduan antara para penampil yang luar biasa dengan setting lokasi yang amat terasa aura prabawanya. Kotagede, sebuah kota tua -cikal bakal Yogyakarta- yang masih terus menunjukkan dinamikanya hingga kini. Sungguh sebuah padu-padan yang amat 'nyamleng' untuk dinikmati.

Dalam beberapa unggahan setelah ini, kami hendak berbagi cerita tentang itu. Bukan mengenai gegap gempita Ngayogjazz sebagaimana yang sudah banyak ditulis oleh pelbagai media massa, 'dikicaukan' di twitter ataupun tertulis di banyak wall dan berbagai status dalam facebook dengan begitu ekspresif dan renyah namun kami ingin sekadar memungut cerita kecil (yang barangkali tercecer) dari Kotagede*.

Mangga lho mas dan mbak, selamat menikmati...


foto: buku "KOTAGEDE Life Between Walls" karya Revianto B Santosa dan Bambang Tri Atmojo.

* sebagian tulisan akan dipulung dari SPBTTBBCAKJT “HirukPikuk” Dagadu Djokdja

11 Agustus 2011

lebih mahal yang palsu

Jamaknya barang bermerk palsu atau kita mengenalnya dengan istilah ‘aspal’ (asli tapi palsu) pasti dijual lebih murah dari aslinya. Bahkan juga dikenal istilah Kw (singkatan dari kwalitet atawa kualitas), dari Kw Super yang amat sangat mirip dengan aslinya, hingga Kw3 yang juga mirip dengan aslinya dalam jarak pandang tertentu. Semakin banyak angkanya berarti semakin banyak permaklumannya. "Maklum, ini kan palsu", "Maklum, harganya kan murah", "Maklum, nggak ngeh kalau sudah ketipu", begitu kira-kira kilah para penggunanya (eh, kalau Kw9 kualitasnya seperti apa ya? Husss...ss!) Demi memangkas biaya produksi agar bisa selamat sampai ke tangan end-user dengan harga murah, maka kualitaslah yang menjadi andalan untuk dikorbankan. Maklum, namanya juga palsu.

Tapi bukan Jogja kalau tidak ada istimewanya. Ternyata Dagadu-Djokdja, merek cinderamata khas kota ini, harga produk palsunya malah lebih mahal dari yang asli. Kenapa bisa begitu? Dari obrolan angkringan diperoleh jawabannya; jika barang palsu tetap dijual lebih murah dari aslinya sudah pasti mengundang kecurigaan calon pembeli. Nah, untuk menyempurnakan gerakan akal-akalan ini ‘Dagasu’ alias Dagadu palsu dengan kualitas yang tetap lebih rendah dibandrol dengan harga yang sama atau bahkan lebih mahal dari merek aslinya. Woooo....??

Ssstt… ada hal lain yang juga istimewa di Jogja. Kabarnya, sekarang ini biaya kuliah di PTN lebih mahal daripada biaya kuliah di PTS. Apakah PTN menaikkan biayanya melampaui PTS agar tak dicurigai sebagai PT palsu ya? Tanya kenapa?

Selamat berkemas untuk pulang ke Jogja lagi. Tetap waspada, agar mudik kali ini adalah mudik yang tetap istimewa.

09 Mei 2011

jogjabulary [i : iwak]

Iwak berarti ikan. Iwak bandeng berarti ikan bandeng. Tapi iwak juga bisa bermakna daging. Jadi ada iwak sapi (daging sapi, bukan ikan sapi) atau iwak pitik (daging ayam, bukan ikan ayam). Perhatikan juga pelafalan kata pitik. Bahasa Jawa versi Banyumasan mengucap ”pitik” dengan kedua ”i” seperti pada ”ini ibu Budi”. Bahasa Jawa versi Jawa Timuran melafal ”pitik” sebagai ”péték”dengan kedua ”i” menjadi ”é” seperti pada ”café sore-sore”. Nah, lidah Jogja, as always, berusaha berada di tengah keduanya. Jadilah, piték.

gambar: www.dagadu.co.id

02 Februari 2011

jogjabulary [H : Hompimpa(h)]


Dalam hompimpa(h), yang ada hanya dua kemungkinan: telungkup atau tengadah, tertutup atau terbuka. Hitam atau putih, ya atau tidak. Inilah momen pembelajaran bagi anak-anak Jogja agar bisa bersikap jelas dan tegas. Cepat dan lugas. Tak ada lagi posisi in between, tak boleh sok bijak merangkum dua kutub yang berseberangan, tak bisa negosiasi berkepanjangan. Tak bisa pula berlindung di balik semboyan masyhur para leluhur, ngono ya ngono ning aja ngono (Silakan begitu asal jangan begitu). Dalam hompimpa(h) tak boleh ada area abu-abu. Tak perlu selalu ragu. Satu-satunya yang boleh diragukan adalah keraguan itu sendiri.

gambar: www.dagadu.co.id

11 Januari 2011

Ngayogjazz 2011: ”Mangan ora mangan… ngejazz”

Orang Jawa mengekspresikan semangat untuk berkumpul, bekerja sama dan bertahan dalam suasana keprihatinan dengan ungkapan ”Mangan ora mangan kumpul”. Makan atau tidak, tetap saja bisa berkumpul (rukun). Ungkapan itulah yang diadopsi untuk Ngayogjazz 2011 menjadi “Mangan Ora Mangan….Ngejazz”. Sebuah ungkapan yang dimaknai bahwa solidaritas bisa terwujud tanpa ikatan atau persoalan material (mangan). Bahkan semangat ini semakin terbukti ketika masa sulit sedang datang.

Inilah Jazz. Sebuah cara memainkan musik yang asyik, spontan, interaktif, dan ekspresif, hampir tanpa batas. Siapapun, alat musik apapun, di manapun, kapanpun, bahkan dalam suasana apapun.

Dan inilah Ngayogjazz. Sebuah gelaran musik jazz a la Ngayogjakarta. Sebuah hajatan yang tetap berkualitas tanpa harus di tempat yang berkelas. Sebagaimana penyelenggaraan tahun-tahun yang lalu, acara ini tak sekadar pertunjukan namun lebih pada perayaan dengan suasana yang amat merakyat, amat ’njogja’. Grapyak dan gumyak.

Silakan menikmatinya pada hari Sabtu Pon 15 Januari 2011 sejak jam 14.00 - 24.00 WIB di Pelataran Djoko Pekik, Desa Sembungan, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia atau di koordinat -7.83264022265, 110.338750259 (7°49’57.50″ S 110°20’19.50″ E)