18 Januari 2013

sekaten, dari mata turun ke interpretasi

Dari SEKATI, gamelan pusaka yang dialunkan selama tujuh hari menjelang puncak prosesi. Dari SESEK ATI, nuansa hati nan sesak yang diisyaratkan ritme gamelan ini. Dari SE-KATI, benjolan bundar di tengah gong itu yang konon berbobot satu kati. Dari SUKA ATI, hati yang bersuka mengenang kelahiran Nabi. Dari SA KAPTI, saeka kapti, seia sekata bersatu hat di perayaan ini. Dari SAYAHADATAIN, kalimat syahadat yang harus diucap khalayak saat memasuki masjid setelah terlebih dulu membasuh muka hingga kaki.

04 Januari 2013

the secret of othok-othok

Siapa yang tak kenal kapal api yang memutar di ember bundar, baskom atau melaju di bak mandi. Kapal-kapalan yang terkenal dengan sebutan kapal othok-otok ini masih mudah kita dapati di arena pasar malam sekaten. Dari kapal tersebut jawablah pertanyaan di bawah ini.

Diketahui:
1. dua pipa logam sejajar.
2. pelita penghasil api, biasanya berbahan bakar minyak goreng.
3. sepasang lempengan logam yang saling direkatkan pada keempat sisinya (lihat diagram).
pipa logam diisi air terlebih dahulu sebelum kapal-kapalan dijalankan.
kapal-kapalan akan berjalan beberapa detik setelah pelita dinyalakan.
4. ketika kapal-kapalan berjalan tak aada gelembung keluar dari kedua pipa, tapi laras meriamnya akan bergerak naik turun menghasilkan bunyi thok-thok-thok-thok.

Ditanyakan:
Mengapa kapal-kapalan itu dapat berjalan?

Jawab:
kapal-kapalan itu dapat berjalan karena seluruh komponennya bekerja dengan disiplin dan taat asas, dan sesuai dengan prosedur.

Selamat mencoba..

03 Januari 2013

sekaten; sebuah perayaan di pelataran

Selamat datang di Alun-alun Jogja. (Sstt, tunggu dulu, jangan buru-buru membayangkan alun-alun ini seperti Trafalgar Square-nya London atau seumumnya piazza di Eropah kontinental sana. Alun-alun itu walaupun kelihatan seperti lapangan kota, sesungguhnya tak lebih dari halaman depan sebuah rumah semata).

Yang membuatnya sedikit istimewa dibanding lazimnya pekarangan di sini, barangkali karena rumah itu cukup tua --lebih 250 tahun umurnya. Areanya lumayan besar pula, hingga pagar luarnya (yang setebal tiga setengah meter itu) perlu dibuat sepanjang empat kilometer untuk menutup kelilingnya. Juga penghuninya yang dalam perjalanan sejarah ternyata telah menjadi cikal bakal peradaban kota ini. Rumah itu, kita tahu, ya karaton Ngayogyakarta.

Di bulan Rabiulawal begini, seperti juga pada Rabiulawal abad-abad sebelumnya, alun-alun itu akan disesaki oleh gelombang manusia, yang bergerak seperti alunan ombak --cocok dengan kata "alun-alun" itu. Ada apa? Meramaikan pasar malam Sekaten, tentu saja.

Di alun-alun, yang "cuma" pekarangan itu, dulu rakyat dapat menemui rajanya. Lantas mereka juga dapat bertemu sesamanya. (Tiba-tiba kita teringat pelataran rumah nenek di desa, tempat kawan-kawan berkumpul dan bermain bersama-sama secara merdeka).
Ah, jangan-jangan, justru pekarangan-pekarangan seperti itu adalah public space a la Jawa, ya?